Translate

Sabtu, 18 Mei 2013

PERAN PERAWAT PADA PENGAMBILAN SPESIMEN DALAM MIKROBIOLOGI PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2013

 PERAN PERAWAT PADA PENGAMBILAN SPESIMEN DALAM MIKROBIOLOGI PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2013 

1. Jelaskan apa saja yang perlu disiapkan dalam persiapan pengambilan spesimen! 2. Jelaskan prosedur pengambilan spesimen pengambilan darah, sputum, urine dan tinja! 3. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam pengambilan spesimen? 4. Uraikan peran perawat dalam diagnosis laboratorium mikrobiologi? 5. Sebutkan agen biologis apa saja yang dapat disimpulkan dari pemeriksaan darah dan jelaskan manifestasi klinik yang akan muncul pada individu tersebut! 6. Sebutkan agen biologis apa saja yang dapat dilihat dari pemeriksaan sputum dan jelaskan manifestasi klinik yang akan muncul pada individu tersebut! 7. Sebutkan agen biologis apa saja yang dapat dilihat dari pemeriksaan urine dan jelaskan manifestasi klinik yang akan muncul pada individu tersebut! 8. Sebutkan agen biologis apa saja yang dapat dilihat dari pemeriksaan tinja dan jelaskan manifestasi klinik yang akan muncul pada individu tersebut! 

PEMBAHASAN :
1. Persiapan dalam pengambilan specimen : Pengambilan specimen merupakan slah satu dari serangkaian proses yang dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan laboratorium. Supaya specimen memenuhi syarat untuk diperiksa, maka proses pengambilan specimen harus dilakukan dengan mengikuti kaidah yang benar. Specimen yang memenuhi syarat yaitu jenisnya sesuai dengan pemeriksaan yang akan dilakukan, volumenya mencukupi untuk tiap jenis pemeriksaan, kondisinya layak untuk diperiksa (segar / tidak kadaluwarsa, tidak berubah warna, steril, tidak menggumpal), antikolagen yang digunakan sesuai, dan ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat. Sebelum melakukan pengambilan specimen, lakukan persiapan-persiapan seperti berikut ini : a. Pemahaman instruksi dan pengisian formulir. Pada tahap ini perlu diperhatikan benar, apa yang diperintahkan oleh dokter dan dipindahkan ke dalam formulir. Hal ini penting untuk menghindari pengulangan pemeriksaan yang tidak penting, membantu persiapan pasien sehingga tidak merugikan pasien dan menyakiti pasien. Pengisian formulir dilakukan secara lengkap meliputi identitas pasien : nama, alamat / ruangan, umur, jenis kelamin, data klinis / diagnosa, dokter pengirim, tanggal dan kalau diperlukan pengobatan yang sedang diberikan. Hal ini penting untuk menghindari tertukarnya hasil ataupun dapat membantu intepretasi hasil terutama pada pasien yang mendapat pengobatan khusus dan jangka panjang. b. Persiapan pasien : 1) Puasa Dua jam setelah makan sebanyak kira-kira 800 kalori akan mengakibatkan peningkatan volume plasma, sebaliknya setelah berolahraga volume plasma akan berkurang. Perubahan volume plasma akan mengakibatkan perubahan susunan kandunganba han dalam plasma dan jumlah sel darah. 2) Obat Penggunaan obat dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan hematologi misalnya : asam folat, Fe, vitamin B12 dll. Pada pemberian kortikosteroid akan menurunkan jumlah eosinofil, sedang adrenalin akan meningkatkan jumlah leukosit dan trombosit. Pemberian transfusi darah akan mempengaruhi komposisi darah sehingga menyulitkan pembacaan morfologi sediaan apus darah tepi maupun penilaian hemostasis. Antikoagulan oral atau heparin mempengaruhi hasil pemeriksaanhemostasis. 3) Waktu pengambilan Umumnya bahan pemeriksaan laboratorium diambil pada pagi hari tertutama pada pasien rawat inap. Kadar beberapa zat terlarut dalam urin akan menjadi lebih pekat pada pagi hari sehingga lebih mudah diperiksa bila kadarnya rendah. Kecuali ada instruksi dan indikasi khusus atas perintah dokter. Selain itu juga ada pemeriksaan yang tidak melihat waktu berhubung dengan tingkat kegawatan pasien dan memerlukan penanganan segera disebut pemeriksaan sito. Beberapa parameter hematologi seperti jumlah eosinofil dan kadar besi serum menunjukkan variasi diurnal, hasil yang dapat dipengaruhi oleh waktu pengambilan. Kadar besi serum lebih tinggi pada pagi hari dan lebih rendah pada sore hari dengan selisih 40-100 ug/dl. Jumlah eosinofil akan lebih tinggi antara jam 10 pagi sampai malam hari dan lebih rendah dari tengahmalam sampai pagi. 4) PosisipengambilanPosisi berbaring kemudian berdiri mengurangi volume plasma 10% demikian pula sebaliknya. Hal lain yang penting pada persiapan penderita adalah menenangkan dan memberitahu apa yang akan dikerjakan sebagai sopan santun atau etika sehingga membuat penderita atau keluarganya tidak merasa asing atau menjadi obyek. c. Persiapan alat Dalam mempersiapkan alat yang akan digunakan selalu diperhatikan instruksi dokter sehingga tidak salah persiapan dan berkesan profesional dalam bekerja. - Pengambilan darah Yang harus dipersiapkan antara lain : kapas alkohol 70 %, karet pembendung (torniket) semprit sekali pakai umumnya 2.5 ml atau 5 ml, penampung kering bertutup dan berlabel. Penampung dapat tanpa anti koagulan atau mengandung anti koagulan tergantung pemeriksaan yang diminta oleh dokter. Kadang-kadang diperlukan pula tabung kapiler polos atau mengandung antikoagulan. • Penampungan urin Digunakan botol penampung urin yang bermulut lebar, berlabel, kering, bersih, bertutup rapat dapat steril (untuk biakan) atau tidak steril. Untuk urin kumpulan dipakai botol besar kira-kira 2 liter dengan memakai pengawet urin. • Penampungan sputum Digunakan sputum pot (tempat ludah) yang tertutup, botol bersih dengan penutup. • Penampung khusus Biasanya diperlukan pada pemeriksaan mikrobiologi atau pemeriksaan khusus yang lain. Seperti pada pemeriksaan tinja. Yang penting diingat adalah label harus ditulis lengkap identitas pasien seperti pada formulir termasuk jenis pemeriksaan sehingga tidak tertukar. 2. Prosedur pengambilan spesimen : a. DARAH Berikut prosedur pengambilan specimen darah : • Darah vena Tujuan : Mendapatkan spesimen darah vena tanpa anti koagulan yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan kimia klinik dan imunoserologi Lokasi : Vena mediana cubiti ( dewasa ), vena jugularis superficialis (bayi) Alat-alat : Kapas alkohol, diaspossible syringe / vacutainer 10 cc, tabung reaksi pyrex 10 cc, kapas steril, plester. Cara kerja : • Bersihkan daerah vena mediana cubiti dengan alcohol 70% dan biarkan menjadi kering kembali. • Pasang torniquet diatas fossa cubiti. Minta pasien yang akan diambil darahnya untuk mengepal dan membuka tangannya beberapa kali agar vena jelas terlihat. Pembendungan vena tidak boleh terlalu kuat. • Tegangkan kulit diatas vena dengan jari tangan kiri agar vena tidak bergerak. • Tusuk kulit diatas vena dengan jarum menggunakan tangan kanan sampai menembus lumen vena. • Lepaskan torniquet dan ambillah darah sesuai yang dibutuhkan. • Taruh kapas diatas jarum dan cabut perlahan. • Minta agar pasien menekan bekas tusukan dengan kapas tadi. • Alirkan darah dari syringe kedalam tabung melalui dinding tabung. • Beri label berisi tanggal pemeriksaan, nama pasien dan jenis specimen. - Darah edta Tujuan : Mendapatkan spesimen darah EDTA yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan morfologi sel darah tepi dan hitung jumlah trombosit. Lokasi : Vena mediana cubiti (dewasa), vena jugularis superficialis (bayi). Alat-alat : Kapas alcohol, diaspossible syringe / vacutainer 10 cc, tabung reaksi pyrex 10 cc/tabung EDTA, kapas steril, plester, dan reagensia : EDTA 10%. Cara kerja : • Teknis pengambilan darah serupa dengan pengambilan sample darah vena. • Darah yang telah diambil dialirkan kedalam tabung yang telah berisi EDTA 10%3. • Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen. • Darah sitrart Tujuan : Mendapatkan spesimen darah SITRAT yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan laju endapan darah metode Weatergreen dan pemeriksaan teshemoragik. Lokasi : Vena mediana cubiti (dewasa), vena jugularis superficialis (bayi) Alat-alat : Kapas alcohol, diaspossible syringe / vacutainer 10 cc, tabung reaksi pyrex 10 cc, kapas steril, plester, reagensia : Natrium sitrat 3.8%. Cara kerja : • Teknis pengambilan darah serupa dengan pengambilan sample darah vena. • Darah yang telah diambil sebanyak 1.6 ml dialirkan kedalam tabung yang telah berisinatriumsitrat 3.8 % sebanyak 0.4 ml3. • Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen • Darah kapiler Tujuan : Mendapatkan spesimen darah kapiler yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan golongan darah dan beberapa pemeriksaan rapid test imunologi. Lokasi : Ujung jari tangan / anak daun telinga (dewasa), tumit / ibu jari kaki (bayi). Alat-alat : Alcohol 70%, lancet steril, kapas steri, plester. Cara kerja : • Bersihkan daerah yang akan di tusuk alcohol 70% dan biarkan menjadi kering kembali. • Pegang bagian yang akan di tusuk supaya tidak bergerak dan di tekan sedikit agar rasa nyeri berkurang. • Tusuk dengan cepat memakai lancet steril. Pada ibu jari tusukan tegak lurus dengan garis sidik jari. Bila memakai anak daun telinga tusukan dilakukan dipinggir bukan pada sisinya.Tusukan harus cukup dalam. • Buang tetes darah pertama keluar dengan memakai kapas kering. Tetes darah berikutnyadipakai untuk pemeriksaan. • Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen b. URIN Pengambilan specimen urin untuk pemeriksaan laboratorium. Tipe pemeriksaan menentukan metode pengumpulan urin. Perawat mengumpulkan specimen urin secara acak, specimen midstream yang diambil dari aliran pertengahan urin, specimen steril, dan specimen urin pada waktu tertentu. • Specimen acak Specimen urin rutin yang dapat diambil secara acak dari dari urin klien saat berkemih secara alami atau dari kateter foley. Specimen harus bersih tetapi tidak perlu steril. Specimen acak digunakan untuk pemeriksaan urinalisis atau mengukur berat jenis, pH, atau kadar glukosa dalam urin secara spesifik. Cara kerja : • Intruksikan pada klien untuk berkemih pada wadah yang bersih, urinal, atau pispot. (klien harus berkemih sebelum defekasi, agar feses tidak mengontaminasi specimen), • Beritahu klien agar menaruh sebagian (sekitar 120 ml) urinnya pada wadah specimen yang telah disediakan dan tutup wadah dengan rapat. • Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen. • Spesimen midstream Untuk memperoleh specimen yang relative bebas dari mikroorganisme yang terdapat di bagian bawah uretra. Di gunakan dalam Pemeriksaan kultur dan sensitivitas urin. Cara kerja : • Intruksikan pada klien untuk pengambilan urin secara bersih, • Beri tau klien untuk membersihkan area genetalia eksternanya, • Setelah membersihakan genetalia beri tau klien untuk mengambil urin dan biarkan urin pertama yang keluar tersebut terbuang, kemudian tampung urin yang keluar pada pertengahan saat berkemih dengan wadah yang sudah disediakan. Urin yang pertama keluar tersebut harus dibuang bertujuan untuk menghilangkan bakteri yang berada di orifisium dan meatus uretra. • Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen. • Specimen steril merupakan metode lain untuk pengambilan specimen yang akan digunakan untuk kultur adalah mengambilnya dari kateter menetap. Cara kerja : • Perawat mempersiapkan alat, mencuci tangan, dan menggunakan hand scoen, • Gunakan spuit 3ml dengan jarum berukuran kecil (23atau25) untuk mencegah timbulnya lubang permanen pada pintu masuk kateter, • Klem selang tepat di bawah tempat yang dipilih untuk menarik urin hingga urin segar yang tidak terkontaminasi terkumpul di dalam selang. • Swab dan masukkan jarum dengan sudut 30 derajat untuk memastikan jarum masuk ke dalam lumen kateter, aspirasi 3-5ml urin. • Pndahkan urin ke wadah steril menggunakan tehnik aseptic steril • Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen. • Cuci tanagan. • Specimen urin pada waktu tertentu Beberapa pemeriksaan fungsi ginjal dan komposisi urin, seperti mengukur kadar steroid atau hormone adrenokortikoid, kreatinin klirens, atau pemeriksaan jumlah protein, memerlukan pengumpulan urin dengan interval waktu 2, 12, atau 24 jam. Cara kerja : • Perawat membuang sampel dan menuliskan waktu dimulainya pengumpuulan specimen urin pada wadah dan formulir pemeriksaan laboratorium, • Intruksikan klien untuk mengumpulkan semua urin yang dikeluarkan pada periode waktu yang telah ditentukan, setiap kali berkemih urin dikumpulkan di dalam wadah yang bersih. Ingatkan klien untuk berkemih sebelum defekasi. • Wadah pengumpul urin dapat diberi pengawet atau disimpan dalam lemari es. c. SPUTUM Pemeriksaan bahan secret atau sputum dilakukan untuk mendeteksi adanya kuman seperti tuberculosis pulmonal, pneumonia bakteri, bronkhitis kronis, bronkhietaksis. Cara kerja : • Siapkan wadah tertutup dan dalam keadaan steril • Dapatkan sputum pada pagi hari sebelum makan pagi • Anjurkan pasien untuk batuk agar mengeluarkan sputum • Pertahankan agar wadah dalam keadaan tertutup • Bila kultur untuk pemeriksaan BTA (Bakeri Tahan Asam), ikuti instruksi yang ada pada botol penampung. Biasanya diperlukan 5-10 cc sputum, yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut. • Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen. d. TINJA Tujuan : • Melihat ada tidaknya darah. Pemeriksaan ini mudah dilakukan baik oleh perawat atau klien sendiri.Pemeriksaan ini menggunakan kertas tes Guaiac. analisa produk diet dan sekresi saluran cerna. Bila feses mengandung banyak lemak (disebut: steatorrhea), kemungkinan ada masalah dalam penyerapan lemak di usus halus. Bila ditemukan kadar empedu rendah, kemungkinan terjadi obstruksi pada hati dan kandung empedu. • Mendeteksi telur cacing dan parasit. Untuk pemeriksaan ini dilakukan tiga hari berturut-turut. • Mendeteksi virus dan bakteri. Untuk pemeriksaan ini diperlukan jumlah feses sedikit untuk dikultur.Pengambilan perlu hati-hati agar tidak terkontaminasi.Pada lembar pengantar perlu dituliskan antibiotik yang telah dikonsumsi. Cara kerja : • Perawat mengingatkan klien untuk defekasi pada bedpan yang bersih bila memungkinkan, agar spesimen tidak terkontaminasi dengan urin atau darah menstruasi. • jangan meletakan tisue pembersih pada bedpan setelah defekasi karena dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan • Dalam pengambilan spesimen gunakan sarung tangan bersih, jumlah feses tergantung pemeriksaan, umumnya 2,5cm untuk feses padat atau 15-30mL untuk cair. • Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen. 3. Hal –hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan specimen : a. Specimen darah Bahan berupa darah, jumlah nya harus cukup. Perbandingan volume darah dengan medium cair adalah 1 :5 atau 1 :10. Waktu Pengambilan : • Saat suhu badan meningkat • Diambil 2-3 kali, dari tempat berbeda, dalam 24 jam à menghindari negatif palsu pada bakteremia intermiten dan untuk menilai kontaminasi. • Untuk typhoid diambil pada demam minggu pertama. • Sebelum pemberian antibiotik atau setelah 3 hari antibiotik dihentikan. b. Specimen urin Pemeriksaan semikuantitatif, perhatikan: • Hindari kontaminasi uretra • Waktu dan transportasi dan penyimpanan specimen. Sebaiknya diambil setelah penderita tidak berkemih sekurang-kurangnya 3 jam, sehingga diperoleh volume cukup untuk diambil. Transport minimal 2 jam setelah pengumpulan specimen, jika > 2 jam simpan pada lemari es (bukan freezer) c. Specimen sputum • Pengambilan sputum sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dimana kemungkinan untuk mendapat sputum bagian dalam lebih besar, atau juga bisa diambil sputum sewaktu. • Pengambilan sputum juga harus dilakukan sebelum pasien menggosok gigi. • Agar sputum mudah dikeluarkan, anjurkan pasien mengkonsumsi air yang banyak pada malam sebelum pengambilan sputum. • Sebelum mengeluarkan sputum, pasien. • Sebelum mengeluarkan sputum, pasien dianjurkan untuk berkumur dengan air dan pasien harus melepas gigi palsu bila ada. • Sputum diambil dari batukan pertama (first cough) • Cara membatukkan sputum dengan tarik nafas dalam dan kuat (dengan pernafasan dada) batukkan kuat sputum dari bronkus trakea, kemudian tampung pada wadah. Wadah penampung berupa pot steril bermulut besar dan berisi tutup (screw cap medium) • Periksa sputum yang dibatukkan, bila ternyata yang dibatukka adalah air liur / saliva, maka pasien harus mengulangi membatukkan sputum. • Sebaiknya, pilih sputum yang mengandung unsur-unsur khusus, seperti butir keju, darah, dan unsur lain. • Bila sputum susah, lakukan perawatan mulut dengan obat glyserin guayokolat (expectorant) 200 mg atau dengan mengonsumsi air teh saaat malam sebelum pengambilan sputum. • Bila sputum juga tidak bisa di keluarkan, sputum dapat diambil secara; aspirasi transtracheal, bronchial lavage, lung biopsi. d. Specimen tinja Tinja diambil dari bagian yang diperkirakan banyak mengandung organisme penyebab (lendir atau darah), ditampung pada tempat steril, harus segera dibawa ke laboratorim. Sedangkan usapan rectal diambil dengan kapas lidi steril, diputar (360º) pada mukosa rektal diambil dengan kedalaman 1-2 cm, kemudian dimasukkan media transport bersama kapas lidi atau kedalam tabung kosong bertutup ulir steril, tutup rapat, segera dikirim ke laboratorium. Sebaiknya tidak digunakan kertas toilet dalam pengambilan/penampungan tinja, karena pada umumnya mengandung garam bismuth yang dapat membunuh mikroorganisme. Selain hal tersebut di atas, hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut : • Formulir diisi denagn data yang lengakap dan tepat. • Kelengkapan alat. • Perhatikan keamanan, kenyamanan, dan privacy klien saat pengambilan specimen. • Perhatikan keselamatan, keamanan kerja dari perawat atau pasien pada saat pengambilan specimen. • Pastikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen. • Segera kirim specimen ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan. • Lakukan dokumntasi setelah pengambilan specimen. 4. Peran perawat dalam diagnosis laboratorium mikrobiologi, yaitu : • Memeriksa permintaan pengambilan specimen dari dokter. • Member petunjuk sederhana kepada pasien dalam pengambilan specimen yang mungkin dapat dilakukan oleh pasien sendiri atau dibantu oleh keluarga. • Pengambilan specimen standar oleh perawat. • Labeling specimen, yaitu memberi label pada specimen yang telah diambil agar jelas dan tidak tertukar nantinya. • Pengiriman specimen ke laboratorium ASAP atau disimpan. • Dokumentasi setelah pengambilan specimen. 5. Beberapa agen biologis yang dapat disimpulkan dari pemeriksaan darah dan manifestasi klinik yang muncul pada individu, berupa : • Human Immunodeficiency Virus (HIV) Virus atau mikroorganisme penyebab terjadinya Human Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dengan gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh tidak dapat memerangi kuman penyakit. HIV dapat diisolasi dari darah, cairan cerebrospinalis, cairan semen, air mata, sekresi vagina atau serviks. Setelah virus ditularkan akan terjadi serangkaian proses yang kemudian menyebabkan infeksi. Manifestasi klinis yang tampak, berupa : - Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan. - Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan. - Demam yang berkepanjangan lebih dari 1 bulan. - Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis. - Batuk menetap lebih dari 1 bulan. - Dermatitis generalisata yang gatal. - Adanya herpes zoster multisegmentaldan berulang • Dengue Hemoragic Fever Disebabkan oleh agen berupa virus yaitu flavivirus, dan disebarkan oleh myamuk aedes aegypti merupakan penyakit febril akut yang ditemukan didaerah tropis. Manifestasi klinis: Penyakit ini ditunjukan melalui menculnya dengan demam secara tiba-tiba, disertai dengan sakit kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam. Ruam demam berdarah mempunyai ciri merah terang, petekial,yang biasanya muncul pada bagian bawah badan beberapa pasien, ia menyebar hingga meliputi hamper seluruh tubuh. Selain itu, radang perut perut juga sering muncul dengan kombinasi sakit diperut, rasa mual, muntah-muntah, diare, pilek ringan disertai batuk-batuk. 6. Agen biologis yang dapat disimpulkan dari pemeriksaan sputung dan manifestasi klinik yang muncul pada individu, berupa : • Mycobacterium Tuberculosis Mrcrobacterium tubercukisis merupakan penyebab penyakit TBC. Penyakit ini biasanya menyerang paru-paru (TB Paru). Penyakit ini dapat ditularkan dengan percikan darah berupa droplet (butiran dahak yang sangat kecil) yang terciprat pada saat penderita TBC batuk kemudian udara yang mengandung kuman tersebut dihirup oleh orang lain. Manifestasi klinis: - Batuk berdahak lebih dari 3 minggu. - Terkadang dahak bercampur dengan darah. - Rasa nyeri pada dada dan sesak nafas. - Nafsu makan dan berat badan menurun. 7. Agen biologis yang dapat disimpulkan dari pemeriksaan urin dan manifestasi klinik yang muncul pada individu, berupa : • E. COLI penyebab Infeksi saluran kemih (ISK) ISK merupakan penyakit yang umumnya menyerang kaum wanita namun sering juga laki-laki menderita ISK. Secara normal, air kencing adalah steril. Infeksi terjadi bila bakteri atau kuman yang berasal dari saluran cerna terdapat di urethra atau ujung saluran kenceng dan kemudian berkembangbiak disana, maka dari itu kuman yang paling sering menyebabkan ISK adalah E. COLI. Manifestasi klinis : Sering kencing, rasa sakit pada saat kencing, rasa sakit sampai terbakar pada kantung kemih. Pada perempuan merasakan ketidaknyamanan pada tulang kemaluan, Umumnya orang yang menderita ISK selalu ingin kencing tetapi kencing yang dikeluarkan sedikit. Air kencing bias berwarna putih, coklat atau kemeraham. ISK tidak menyebkan demam selama masih menginfeksi urethra dan kandung kemih. Demam muncul ketika gejala sudah tampak, gejala lain saat ginjal terinfeksi adalah rasa sakit pada punggung, mual dan muntah. 8. Agen biologis yang dapat disimpulkan dari pemeriksaan tinja dan manifestasi klinik yang muncul pada individu, berupa : • Vibrio Cholera Merupakan agen infeksi berupa bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kolera, yang merupakan penyakit menular pada saluran cerna. Bakteri ini masuk kedalam tubuh melalui makanan yang terkontaminasi oleh sanitasi yang tidak benar atau dengan memakan ikan dengan tidak memasaknya dengan benar terutama ikan shell. Manifestasi klinis: - Perut keram - Mual, muntah, dehidrasi. Kematian biasanya disebabkan oleh dehidrasi, jika dibiarkan tidak terawat kolera memiliki tingkat kematian tinggi perawatan biasanya dengan rehidrasi agresif “regimen” biasanya diantar secara intravenous yang berlanjut sampai doare terhenti. KESIMPULAN Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan, bahwa pemeriksaan mikrobiologi merupakan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui penyebab dari gejala-gejala penyakit yang timbul pada sebagian besar penyakit, yang mungkin di curigai penyebabnya berupa virus, jamur, bakteri, parasit, dan sebagainya. Selain itu pemeriksaan mikrobiologi juga digunakan agar perawat dapat mengimplementasikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien, begitu pula terapi pengobatan yang tepat oleh dokter. Beberapa hal harus diperhatikan dalam pengambilan specimen untuk pemeriksaan mikrobiologi agar tidak terpapar oleh bahan lain yang tidak diperlukan dalam pemeriksaan specimen sehingga tidak mempengaruhi hasil akhir dari pemeriksaan. DAFTAR PUSTAKA 1. Potter & perry, 2005, Fundamental of nursing volume 2, Jakarta, ECG. 2. Sylvia A. Price Lorraine M. Wilson, 2005, Patofisiologi edisi 6 volume 1, Jakarta, ECG. 3. Sylvia A. Price Lorraine M. Wilson, 2005, Patofisiologi edisi 6 volume 2, Jakarta, ECG. 4. Marrelli, T.M. 2007. Buku Saku Dokumentsi Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar